Untuk menjawab peluang dengan difungsikannya bandara Adisucipto sebagai bandara Internasional, maka perusahaan-perusahaan di Yogyakarta perlu segera membentuk perencanaan induk menuju perusahaan e-Business.
Meski peluang yang dijanjikan oleh sistem e-Business cukup menggiurkan, namun tidak mudah untuk menyelenggarakan layanan e-Business secara profesional. Tantangan utama adalah membentuk perusahaan digital terlebih dahulu yang akan menjadi sarana dan prasarana utama. Artinya perusahaan harus mendigitalkan hampir semua proses bisnis, pengelolaan aset dan hubungan dengan pelanggan, pemasok, mitra kerja dan karyawan.
Hal ini berarti, perusahaan memiliki pekerjaan rumah yang tidak ringan, karena harus melakukan otomatisasi sistem informasinya. Tentu saja, pada tahap awal akan terasa sangat berat, karena perusahaan tidak hanya melakukan restrukturisasi sistem informasi, melainkan juga harus menyediakan investasi peralatan yang tidak sedikit. Disamping itu, faktor sumber daya manusia (SDM) harus mendapatkan perhatian yang serius menyusul proses transisi dari perusahaan dengan sistem manual menuju sistem komputer.
4 Indikator
Untuk membentuk suatu perusahaan digital tidak hanya sekedar melakukan komputerisasi di bagian penjualan, pembelian, persediaan barang atau keuangan saja, karena hal itu baru sebagian kecil dari suatu rencana induk pembentukan perusahaan digital.
Menurut Kenneth Laudon, ada 4 indikator yang harus dipenuhi untuk menjadi perusahaan digital, yaitu sistem pengelolaan rantai pasokan, sistem pengelolaan relasi pelanggan, sistem perusahaan dan sistem pengelolaan pengetahuan.
Komputerisasi sistem pengelolaan rantai pasokan berarti melakukan otomatisasi terhadap sistem yang mengalirkan informasi dari perusahaan kepada pemasoknya dan sebaliknya. Otomatisasi itu dilakukan dalam usaha untuk mengoptimalkan perencanaan, persediaan bahan baku, produksi, pengiriman produk dan jasa. Jika aliran informasi ini berlangsung dengan lancar dan cepat, maka perusahaan tidak perlu memiliki gudang sendiri untuk menyimpan bahan baku.
Hal ini disebabkan kebutuhan itu dapat dipenuhi oleh pemasok dalam waktu yang singkat, karena pemasok dapat memperoleh informasi dari perusahaan secara cepat. Boleh jadi, sudah terbentuk sistem informasi terintegrasi antara perusahan dan pemasok. Dengan melakukan komputerisasi sistem pengelolaan rantai pasokan, maka perusahaan dapat menghemat investasi, sehingga bisa lebih kompetitif dalam memasarkan produk jadinya.
Indikator kedua menunjukkan suatu kebutuhan perusahaan untuk membangun relasi yang baik dengan para pelanggannya. Oleh karena, perusahaan tidak dapat menjaga kelangsungan hidupnya tanpa adanya pelanggan, maka pelanggan merupakan faktor penting yang harus dikelola dengan baik.
Untuk membangun hubungan yang terintegrasi antara perusahaan dengan pelanggan, maka harus dibentuk suatu sistem informasi yang dapat memfasilitasi komunikasi dan hubungan antara kedua belah pihak. Penyelenggaraan fasilitas chatting atau e-mail bahkan suatu sistem database untuk menampung umpan balik dari pelanggan merupakan suatu bentuk minimal yang perlu disediakan, sehingga informasi itu dapat mengalir dengan lancar.
Sistem Perusahaan
Indikator ketiga ini biasanya sudah lebih dahulu dibangun oleh perusahaan, misalnya dengan membuat aplikasi sistem informasi penjualan, pembelian, persediaan barang, keuangan dan akuntansi.Ada perusahaan yang sudah lengkap mendigitalkan sistem perusahaannya, namun juga banyak yang melakukannya secara parsial, bagian per bagian secara bertahap.
Memang tidak mudah untuk melakukan komputerisasi dari seluruh sistem perusahaan. Oleh karena itu, kunci keberhasilan dari proses komputerisasi ini terletak pada kemampuan pimpinan perusahaan dalam merumuskan suatu rencana induk pembangunan sistem informasi yang terpadu antar bagian atau lini manajemen perusahaan tersebut.
Tanpa perencanaan yang terpadu, maka hasil yang diperoleh adalah sistem yang ‘compang camping’, sehingga nantinya akan sulit untuk mengintegrasikannya secara keseluruhan. Misalnya sistem penjualan dibuat dengan bahasa komputer Visual Basic. Sementara itu, sistem pembelian dibuat dengan bahasa Visual FoxPro, dan sistem yang lain dibuat dengan bahasa Borland Delphi.
Belum lagi masalah model jaringan komputer yang akan digunakan, seperti penggunaan sistem kabel atau nirkabel alias wireless. Apalagi sistem wireless kini semakin berkembang dengan pesat, dimana personal digital assistant (PDA) dan ponsel sudah dapat difungsikan sebagai terminal akses dalam suatu sistem informasi perusahaan. Di samping itu,pemilihan sistem operasi jaringan,seperti Microsoft, Novell atau Linux,juga sering melahirkan konflik.
Selain itu, perkembangan peripheral komputer juga perlu dipertimbangkan. Tawaran penggunaan sistem barcode untuk pembacaan kode barang seperti yang dilakukan di kasir-kasir supermarket, atau sistem presensi kehadiran pegawai dengan menggunakan pendeteksi sidik jari perlu dipertimbangkan.
Oleh karena itu, sebelum melangkah terlalu jauh dalam melakukan komputerisasi per bagian dalam perusahaan, maka para pengelola harus merumuskan suatu rencana induk yang akan mengintegrasikan dari semua projek komputerisasi tersebut.
Manajemen Pengetahuan
Indikator keempat merupakan puncak dari gelombang inovasi teknologi informasi dalam suatu perusahaan digital, yaitu dengan membangun sistem yang mendukung untuk menciptakan kreasi solusi, mencatat, menyimpan dan menyebarkan pengetahuan dan keahlian.
Salah satu bentuk sistem ini sering disebut dengan istilah sistem pendukung keputusan (SPK) dan sistem pakar. SPK merupakan sistem yang digunakan untuk menyediakan altenatif-alternatif keputusan yang diperoleh dari hasil pengolahan yang rumit.
Beberapa aplikasi yang sudah pernah dibuat dalam skripsi mahasiswa S1 Teknik Informatika, antara lain: SPK pengucuran kredit perumahan, perekrutan pegawai, penilaian kinerja pegawai intelektual, optimalisasi penyertaan modal dalam berbagai bidang bisnis dan lain sebagainya.
Sementara itu, aplikasi-aplikasi sistem pakar juga telah dikembangkan, khususnya untuk mengatasi kekurangan pakar atau pengelola perusahaan yang berpengalaman. Para pakar dan orang berpengalaman itu dapat dihadirkan lewat sistem pakar ini, sehingga para manajer muda dapat memanfaatkannya baik untuk konsultasi, maupun melakukan deteksi terhadap suatu kasus.
Tantangan
Memang tidak mudah dalam membangun perusahaan digital. Beberapa tantangan menghadang perusahaan-perusahaan dalam usaha transformasi dari manual menuju digital. Penciptaan strategi bisnis merupakan tantangan pertama untuk dapat menggunakan teknologi sebagai keunggulan kompetitif. Bukan sebaliknya justru menjadi beban investasi yang sangat berat.
Sementara itu, gelombang globalisasi juga memicu lahirnya tuntutan standarisasi baik sistem perusahaan, maupun produk dan jasa yang dihasilkannya. Sejumlah hotel, perusahaan dan perguruan tinggi yang kompetitif, telah mengupayakan perolehan sertifikat standarisasi itu agar produk dan jasanya dapat didistribusikan secara luas hingga ke manca negara. Apalagi dengan menggunakan sistem e-Business, maka perusahaan akan dapat diakses dari seluruh penjuru dunia. Tanpa standar global, maka perusahaan akan sulit untuk memasarkan produknya.
Pekerjaan yang tidak ringan tentu juga dihadapi oleh para ahli komputer yang harus merancang infrastruktur dan arsitektur informasi di dalam perusahaan. Rancangan itu harus bisa menjawab sejumlah kondisi, khususnya perubahan cepat di bidang teknologi informasi. Selain itu, para ahli komputer juga harus mampu untuk menentukan nilai bisnis dari pembangunan sistem informasi itu. Jangan sampai pembangunan sistem itu tidak memberikan keuntungan bagi perusahaan.
Tantangan yang terakhir, yaitu masalah kontrol dan respon. Dua hal ini sering diremehkan, sehingga kurang mendapatkan perhatian, padahal sangat penting untuk menentukan keberhasilan sistem.
Meski peluang yang dijanjikan oleh sistem e-Business cukup menggiurkan, namun tidak mudah untuk menyelenggarakan layanan e-Business secara profesional. Tantangan utama adalah membentuk perusahaan digital terlebih dahulu yang akan menjadi sarana dan prasarana utama. Artinya perusahaan harus mendigitalkan hampir semua proses bisnis, pengelolaan aset dan hubungan dengan pelanggan, pemasok, mitra kerja dan karyawan.
Hal ini berarti, perusahaan memiliki pekerjaan rumah yang tidak ringan, karena harus melakukan otomatisasi sistem informasinya. Tentu saja, pada tahap awal akan terasa sangat berat, karena perusahaan tidak hanya melakukan restrukturisasi sistem informasi, melainkan juga harus menyediakan investasi peralatan yang tidak sedikit. Disamping itu, faktor sumber daya manusia (SDM) harus mendapatkan perhatian yang serius menyusul proses transisi dari perusahaan dengan sistem manual menuju sistem komputer.
4 Indikator
Untuk membentuk suatu perusahaan digital tidak hanya sekedar melakukan komputerisasi di bagian penjualan, pembelian, persediaan barang atau keuangan saja, karena hal itu baru sebagian kecil dari suatu rencana induk pembentukan perusahaan digital.
Menurut Kenneth Laudon, ada 4 indikator yang harus dipenuhi untuk menjadi perusahaan digital, yaitu sistem pengelolaan rantai pasokan, sistem pengelolaan relasi pelanggan, sistem perusahaan dan sistem pengelolaan pengetahuan.
Komputerisasi sistem pengelolaan rantai pasokan berarti melakukan otomatisasi terhadap sistem yang mengalirkan informasi dari perusahaan kepada pemasoknya dan sebaliknya. Otomatisasi itu dilakukan dalam usaha untuk mengoptimalkan perencanaan, persediaan bahan baku, produksi, pengiriman produk dan jasa. Jika aliran informasi ini berlangsung dengan lancar dan cepat, maka perusahaan tidak perlu memiliki gudang sendiri untuk menyimpan bahan baku.
Hal ini disebabkan kebutuhan itu dapat dipenuhi oleh pemasok dalam waktu yang singkat, karena pemasok dapat memperoleh informasi dari perusahaan secara cepat. Boleh jadi, sudah terbentuk sistem informasi terintegrasi antara perusahan dan pemasok. Dengan melakukan komputerisasi sistem pengelolaan rantai pasokan, maka perusahaan dapat menghemat investasi, sehingga bisa lebih kompetitif dalam memasarkan produk jadinya.
Indikator kedua menunjukkan suatu kebutuhan perusahaan untuk membangun relasi yang baik dengan para pelanggannya. Oleh karena, perusahaan tidak dapat menjaga kelangsungan hidupnya tanpa adanya pelanggan, maka pelanggan merupakan faktor penting yang harus dikelola dengan baik.
Untuk membangun hubungan yang terintegrasi antara perusahaan dengan pelanggan, maka harus dibentuk suatu sistem informasi yang dapat memfasilitasi komunikasi dan hubungan antara kedua belah pihak. Penyelenggaraan fasilitas chatting atau e-mail bahkan suatu sistem database untuk menampung umpan balik dari pelanggan merupakan suatu bentuk minimal yang perlu disediakan, sehingga informasi itu dapat mengalir dengan lancar.
Sistem Perusahaan
Indikator ketiga ini biasanya sudah lebih dahulu dibangun oleh perusahaan, misalnya dengan membuat aplikasi sistem informasi penjualan, pembelian, persediaan barang, keuangan dan akuntansi.Ada perusahaan yang sudah lengkap mendigitalkan sistem perusahaannya, namun juga banyak yang melakukannya secara parsial, bagian per bagian secara bertahap.
Memang tidak mudah untuk melakukan komputerisasi dari seluruh sistem perusahaan. Oleh karena itu, kunci keberhasilan dari proses komputerisasi ini terletak pada kemampuan pimpinan perusahaan dalam merumuskan suatu rencana induk pembangunan sistem informasi yang terpadu antar bagian atau lini manajemen perusahaan tersebut.
Tanpa perencanaan yang terpadu, maka hasil yang diperoleh adalah sistem yang ‘compang camping’, sehingga nantinya akan sulit untuk mengintegrasikannya secara keseluruhan. Misalnya sistem penjualan dibuat dengan bahasa komputer Visual Basic. Sementara itu, sistem pembelian dibuat dengan bahasa Visual FoxPro, dan sistem yang lain dibuat dengan bahasa Borland Delphi.
Belum lagi masalah model jaringan komputer yang akan digunakan, seperti penggunaan sistem kabel atau nirkabel alias wireless. Apalagi sistem wireless kini semakin berkembang dengan pesat, dimana personal digital assistant (PDA) dan ponsel sudah dapat difungsikan sebagai terminal akses dalam suatu sistem informasi perusahaan. Di samping itu,pemilihan sistem operasi jaringan,seperti Microsoft, Novell atau Linux,juga sering melahirkan konflik.
Selain itu, perkembangan peripheral komputer juga perlu dipertimbangkan. Tawaran penggunaan sistem barcode untuk pembacaan kode barang seperti yang dilakukan di kasir-kasir supermarket, atau sistem presensi kehadiran pegawai dengan menggunakan pendeteksi sidik jari perlu dipertimbangkan.
Oleh karena itu, sebelum melangkah terlalu jauh dalam melakukan komputerisasi per bagian dalam perusahaan, maka para pengelola harus merumuskan suatu rencana induk yang akan mengintegrasikan dari semua projek komputerisasi tersebut.
Manajemen Pengetahuan
Indikator keempat merupakan puncak dari gelombang inovasi teknologi informasi dalam suatu perusahaan digital, yaitu dengan membangun sistem yang mendukung untuk menciptakan kreasi solusi, mencatat, menyimpan dan menyebarkan pengetahuan dan keahlian.
Salah satu bentuk sistem ini sering disebut dengan istilah sistem pendukung keputusan (SPK) dan sistem pakar. SPK merupakan sistem yang digunakan untuk menyediakan altenatif-alternatif keputusan yang diperoleh dari hasil pengolahan yang rumit.
Beberapa aplikasi yang sudah pernah dibuat dalam skripsi mahasiswa S1 Teknik Informatika, antara lain: SPK pengucuran kredit perumahan, perekrutan pegawai, penilaian kinerja pegawai intelektual, optimalisasi penyertaan modal dalam berbagai bidang bisnis dan lain sebagainya.
Sementara itu, aplikasi-aplikasi sistem pakar juga telah dikembangkan, khususnya untuk mengatasi kekurangan pakar atau pengelola perusahaan yang berpengalaman. Para pakar dan orang berpengalaman itu dapat dihadirkan lewat sistem pakar ini, sehingga para manajer muda dapat memanfaatkannya baik untuk konsultasi, maupun melakukan deteksi terhadap suatu kasus.
Tantangan
Memang tidak mudah dalam membangun perusahaan digital. Beberapa tantangan menghadang perusahaan-perusahaan dalam usaha transformasi dari manual menuju digital. Penciptaan strategi bisnis merupakan tantangan pertama untuk dapat menggunakan teknologi sebagai keunggulan kompetitif. Bukan sebaliknya justru menjadi beban investasi yang sangat berat.
Sementara itu, gelombang globalisasi juga memicu lahirnya tuntutan standarisasi baik sistem perusahaan, maupun produk dan jasa yang dihasilkannya. Sejumlah hotel, perusahaan dan perguruan tinggi yang kompetitif, telah mengupayakan perolehan sertifikat standarisasi itu agar produk dan jasanya dapat didistribusikan secara luas hingga ke manca negara. Apalagi dengan menggunakan sistem e-Business, maka perusahaan akan dapat diakses dari seluruh penjuru dunia. Tanpa standar global, maka perusahaan akan sulit untuk memasarkan produknya.
Pekerjaan yang tidak ringan tentu juga dihadapi oleh para ahli komputer yang harus merancang infrastruktur dan arsitektur informasi di dalam perusahaan. Rancangan itu harus bisa menjawab sejumlah kondisi, khususnya perubahan cepat di bidang teknologi informasi. Selain itu, para ahli komputer juga harus mampu untuk menentukan nilai bisnis dari pembangunan sistem informasi itu. Jangan sampai pembangunan sistem itu tidak memberikan keuntungan bagi perusahaan.
Tantangan yang terakhir, yaitu masalah kontrol dan respon. Dua hal ini sering diremehkan, sehingga kurang mendapatkan perhatian, padahal sangat penting untuk menentukan keberhasilan sistem.





Digitalisasi korporat hanya sebatas komputerisasi atau internetisasi atau aplikasisasi, tidak merubah sistem bisnis sbg digital/binary/close corporate (0-1/untung-rugi/kawan-lawan/menang-kalah).
Pakai sistem amany utk merubah Close Corporate (digital/binary corporate) menjadi Transcendent Corporate (Close Corporate - Open Corporate - Smart Corporate - Immanent Corporate - Transcendent Corporate) sehingga perusahaan bisa terus menerus tumbuh & berkembang natural (auto management) secara materi (uang/aset), non materi (perilaku/budaya) dan rasa (enjoy/betah).