Era paperless makin merasuk dalam berbagai bidang usaha. Apalagi konsep paperless telah mengangkat isu penghematan kertas bahkan sedapat mungkin tidak menggunakan kertas, sehingga dapat menekan biaya adminstrasi.
Gerakan paperless ini lahir, karena usaha untuk melindungi hutan sebagai paru-paru dunia. Kertas yang dibuat dari serat kayu harus dihemat penggunaannya, agar dunia tidak kehilangan paru-parunya, karena penebangan hutan besar-besaran.
Gerakan paperless ini digulirkan dengan mengoptimalkan penggunaan teknologi komputer beserta jaringannya termasuk Internet. Dengan mengoptimalkan penggunaan teknologi komputer tersebut, maka penggunaan kertas dapat dikurangi, karena pelaporan, pencatatan dan pengiriman copy data atau informasi dapat dilakukan secara elektronis, yaitu dengan pengiriman file.
Kampus digital
Saat ini, penerapan konsep paperless ini telah merambah lingkungan pendidikan juga. Sejumlah kampus sudah mulai menggiatkan penggunaan komputer, jaringan dan Internet, baik untuk sarana belajar, konsultasi, pengumpulan hasil penelitian. Bahkan kini sudah tercipta aplikasi-aplikasi yang menunjang proses belajar mengajar dalam berbagai jenjang dari Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan perguruan tinggi.
Aplikasi-aplikasi itu diciptakan oleh para ahli sebagai media belajar yang interaktif, menarik dan membangkitkan semangat belajar yang tinggi. Di samping itu, penggunaan kertas dapat ditekan bahkan ditiadakan.
Anak-anak dapat belajar mewarnai, berhitung, membaca, bercerita dan berkreasi dengan mengakses aplikasi-aplikasi berupa software Anak Cerdas dan lain sebagainya. Sementara itu, tersedia juga aplikasi-aplikasi seperti matematika, fisika, bahasa Inggris, biologi dan geografi yang dapat diakses dengan komputer oleh siswa-siswi SMP dan SMA. Bahkan konsep buku, ensiklopedia, kamus dan peta elektronis telah tercipta, sehingga hanya melalui sebuah personal digital assistant (PDA), seorang siswa dapat melakukan akses terhadap ratusan judul buku.
Berbagai upaya untuk mengoptimalkan penggunaan komputer tersebut akan bermuara pada penciptaan sistem e-Education, dimana proses belajar mengajar dapat dilakukan secara elektrik virtual melalui komputer dan jaringan Internet. Sistem e-Education juga membuka kemungkinan untuk dilakukannya pembelajaran jarak jauh.
Dengan demikian di masa depan akan tercipta kampus digital, dimana proses belajar mengajar, interaksi antara siswa dengan pendidik serta sarana pendidikan seperti laboratorium, perpustakaan, buku dan majalah diakses dan dilakukan secara elektronis.
Infrastruktur
Untuk menciptakan kampus digital, maka lingkungan kampus harus meningkatkan penggunaan teknologi komputer dan jaringan termasuk Internet. Tentu saja investasi teknologi akan semakin meningkat, seiring kebutuhan untuk melakukan kegiatan belajar mengajar secara elektronis.
Kampus tidak hanya perlu menambah komputer di laboratorium dan melengkapi kantor dan meja-meja pendidik dengan komputer yang terhubung ke Internet saja. Namun juga perlu mendorong para siswa untuk memiliki dan menggunakan teknologi komputer tersebut seoptimal mungkin.
Untuk melayani akses Internet di lingkungan kampus, maka kerjasama dengan provider Internet harus segera diwujudkan. Apalagi jika akan membentuk hot spot dimana akses Internet di lingkungan kampus semakin mudah baik dengan jaringan kabel maupun Wireless (tanpa kabel).
Dengan demikian, pergerakan warga kampus yang dinamis tidak menjadi kendala, karena warga kampus dapat mengakses Internet dimana saja mereka berada dalam lingkungan kampus. Sekalipun warga kampus berada di taman atau auditorium, mereka tetap dapat melakukan akses Internet.
Demam Notebook
Sekalipun kampus sudah menyediakan layanan akses Internet dengan mudah, warga kampus juga harus memiliki terminal akses baru dapat memanfaatkan fasilitas Internet dengan optimal. Tanpa terminal akses, maka warga kampus juga tidak dapat melakukan akses terhadap layanan Internet tersebut.
Notebook dan PDA merupakan pilihan untuk terminal akses yang dapat mendukung mobilitas yang tinggi dari warga kampus. Meskipun terminal berupa komputer desktop tetap diperlukan di laboratorium atau ruang kantor.
Oleh karena mobilitas warga kampus yang tinggi, maka kini lingkungan kampus sedang dilanda demam Notebook yang menjadikan kampus sebagai area Notebook. Para pendidik mulai dengan mempersiapkan Notebook pada waktu akan menyajikan materi. Sementara peserta didik, mulai mempersiapkan Notebook untuk membuat catatan atau mengakses materi pengajaran yang telah di up load ke Internet.
Penutup
Lingkungan kampus digital merupakan impian masa depan. Namun, usaha untuk menekan biaya kertas, tampaknya harus dibayar mahal dengan investasi teknologi informasi, baik oleh institusi pendidikan, maupun oleh para warga kampus.
Para pendidik dan siswa dihadapkan pada tawaran kredit Notebook yang menggiurkan, yang tidak jarang situasi ini justru mendorong terciptanya biaya pendidikan yang tinggi di masa depan. Oleh karena itu, dibutuhkan peran serta dari para ahli teknologi informasi dan para pemerhati pendidikan untuk menemukan keseimbangan baru antara kebutuhan pendidikan dan orientasi teknologi.
What Cause Blood Clots
7 years ago





Comments :
Post a Comment