KOMPUTERISASI BUKAN UNTUK ROBOTISASI

Ada sebuah fenomena menarik yang dialami oleh sebuah lembaga dengan jumlah karyawan departemen tekniknya sekitar 40-an orang rela berinvestasi komputer Pentium dengan peripheral finger scan (pencatat sidik jari) yang cukup mahal hanya untuk mencatat jam kehadiran karyawannya.

Arti komputerisasi
Komputerisasi tidak sekedar melakukan investasi teknologi komputer dan jaringannya serta membuat program untuk mengotomatisasikan prosedur-prosedur yang tadinya dilakukan secara manual.
Komputerisasi merupakan suatu proses untuk merancang dan menata ulang alur dan prosedur agar manjadi lebih sederhan, layak, efisien dan efektif. Misalnya aliran data dari transaksi hingga menjadi laporan yang tadinya harus melewati 6-7 tahapan dapat disingkat menjadi hanya 2-3 tahap saja.
Disamping itu, komputerisasi berarti memprogram prosedur-prosedur rutin yang kritis dan memiliki arti strategis yang sangat berpengaruh bagi kelangsungan perusahaan jika sampai terjadi human error.
Oleh karena itu, sebelum menyediakan segala infrastruktur dan memprogram semua prosedur harus dilakukan studi kelayakan terlebih dahulu. Studi itu meliputi kelayakan teknis, ekonomis, non ekonomis, etika, moral, hukum dan operasional. Di samping itu, juga perlu dipertimbangkan kelayakan berdasarkan perilaku SDM pengguna dan yang berada dalam lingkungan sistem tersebut.
Banyaknya aspek yang harus dipertimbangkan menunjukkan bahwa faktor teknis tidak merupakan satu-satunya solusi dalam setiap persoalan perusahaan. Misalnya untuk mengatasi karyawan yang terlambat. Komputerisasi belum tentu menjadi solusi yang tepat. Mungkin saja hanya di awal penerapan komputer, karyawan menjadi rajin, atau bisa jadi rajin datang tetapi kualitas kinerja dan produktivitasnya rendah.
Kejadian lain, seorang pimpinan menginformasikan jadwal rapat lewat e-mail. Namun pada harinya, tidak ada karyawan yang datang. Ternyata perilaku karyawan dalam menggunakan komputer hanya untuk browsing, sedangkan fasilitas e-mailnya kurang aktif digunakan atau malah tidak mengakses sama sekali.
Sebaiknya perusahaan tidak meninggalkan aspek manusiawi untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Lebih baik jika pendekatan melalui pelatihan-pelatihan tidak dikesampingkan seperti manajemen waktu, penentuan skala perioritas kegiatan, menunjukkan arti kehadiran karyawan di perusahaan. Di samping itu, sistem penggajian ditata agar dapat menggairahkan, sampai dengan bagaimana pihak manajemen memperlakukan karyawan agar kehadirannya memiliki arti. Bisa jadi SDM itu terlambat terus karena manajemen waktunya buruk atau ia merasa tidak berarti di perusahaan tempatnya bekerja.

Perancang Komputerisasi
Melihat faktor-faktor studi kelayakan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa perancang komputerisasi seharusnya bukan sekedar ahli komputer semata, melainkan berbagai pihak dengan disiplin ilmu yang terkait. Misalnya para ekonom, psikolog, ahli etika, moral dan sebagainya. Namun yang paling sering terjadi, proses komputerisasi hanya ditangani oleh ahli komputer saja, sehingga timbul kesan bahwa penyelesaian masalah identik dengan melakukan komputerisasi.
Pertimbangan-pertimbangan hanya dilakukan dari aspek teknis saja, kurang bahkan tidak mempertimbangkan aspek lain khususnya manusia di dalamnya. Akibatnya tidak jarang proses komputerisasi justru membuat SDM di perusahaan itu merasa disingkirkan.

Komputer hanyalah alat
Hingga kini masih banyak orang yang menobatkan komputer sebagai solusi utama dalam pengembangan perusahaan. Sebenarnya komputer hanyalah sebuah alat yang terdiri dari unit-unit seperti unit sistem yang di dalamnya terdapat CPU, Monitor, Printer, Model, Keyboard, Mouse dan peripheral lainnya.
Penggunaan alat tersebut sebenarnya diarahkan untuk mempermudah dan menyederhanakan perkerjaan. Dan harus diwaspadai, agar alat terebut tidak menjadi bumerang bagi pemakainya.
Artinya dengan memfungsikan alat ini secara berlebihan dapat membuat manusia menderita. Dimana otaknya tidak lagi terlatih untuk menghitung, berkurangnya rasa percaya diri yang dalam jangka panjang dapat menurunkan nilai-nilai kemanusiaannya. Sehingga tanpa disadari komputerisasi telah melahirkan robot-robot di tengah-tengah kehidupan ini.
Ambil contoh msialnya, berikanlah pertanyaan kepada operator komputer berapa hasil perhitungan 77x11, maka ia akan segera meraih Mouse untuk mencari fasilitas kalkulator pada komputernya. Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak lagi percaya diri dan otaknya tidak lagi dilatih untuk menghitung dengan cepat.

Menghindari Robotisasi
Banyak kendala untuk mengendalikan arah dari proses komputerisasi yang dilakukan secara eforia semata. Dalam sebuah diskusi yang berubah menjadi perdebatan, sejumlah orang melakukan komputerisasi hanya berdasarkan manfaatnya seperti cepat, tepat dan akurat. Sementara yang lain memiliki alasan bahwa komputerisasi itu diarahkan untuk peningkatkan kontrol dan penghematan semata.
Namun tidak dapat disangkal dimana kenyataan menunjukkan bahwa langkah komputerisasi yang dilakukan secara eforia semata telah menciptakan kesengsaraan bagi para karyawan.Tidak terasa mereka dibentuk menjadi robot-robot hidup di dalam perusahaan. Bahkan lama kelamaan hati merekapun menjadi seperti batu. Bisa jadi kelak ada karyawan yang terlambat 2 menit saja karena ia harus mengantar anaknya ke rumah sakit, malah ia terkena hukuman pengurangan 5 persen dari gajinya. Sudah jatuh masih tertimpa tangga.
Oleh karena itu, belum terlambat jika mulai sekarang para pimpinan mau meninjau kembali kebijakan dan arah dari proses komputerisasi di perusahaannya. Sudah saatnya perusahaan menyadari, jika komputerisasi terarah pada robotisasi dan SDM lainnya tidak berkesempatan memperoleh lapangan kerja, maka di masa depan, perusahaan-perusahaan akan membayar lebih mahal untuk memperbaiki dan merawat masyarakat tersebut.
Manusia-manusia robot akan kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya, sementara SDM yang lapar dan tanpa pekerjaan akan menjadi ancaman tersendiri bagi perusahaan-perusahaan tersebut.
Perusahaan perlu meneliti kembali prosedur-prosedur mana yang perlu dan kritis untuk dikomputerisasi dan mana yang dapat diselesaikan melalui pendekatan pelatihan dan pengembangan SDM. Memang di saat ini, penggunaan teknologi komputer diperlukan untuk peningkatan daya saing perusahaan, namun jangan dilupakan keberadaan SDM lebih bernilai.

Comments :

0 comments to “KOMPUTERISASI BUKAN UNTUK ROBOTISASI”

Post a Comment

Open Directory Project at dmoz.org