Krisis multidimensi di Indonesia tampaknya masih belum dapat diakhiri dalam waktu dekat. Pertumbuhan lapangan kerja di perusahaan-perusahaan dan industri juga masih melambat, sehingga banyak lulusan perguruan tinggi yang tidak dapat diserapnya.
Banyak sekali lulusan perguruan tinggi yang harus sabar untuk mengantri di depan pintu gerbang perusahaan sambil menenteng ijazahnya. Hanya mereka yang memiliki nilai tambah melalui pengalaman maupun peningkatan keterampilan tambahan secara pribadi yang dapat menerobos kompetisi yang sangat ketat tersebut.
Melihat situasi itu, tidak jarang lahir sikap apatis dari masyarakat yang menganggap kuliah tidak perlu, karena para lulusan tidak dapat langsung terserap dalam dunia kerja.
Kurikulum berbasis industri
Untuk menanggapi harapan masyarakat, pengelola pendidikan tinggi telah berupaya untuk mengembangkan kurikulum lokal berbasis industri sambil memelihara dan meningkatkan muatan kurikulum nasional wajib.
Khusus pendidikan tinggi dalam bidang komputer, penerapan kurikulum berbasis industri diwujudkan dengan melakukan kerjasama sertifikasi dengan para produsen perangkat lunak, seperti Microsoft, Oracle, Cisco, Novell dan Autodesk.
Beberapa bentuk sertifikasi yang ditawarkan, antara lain MCSA, MCSE, OCA, CCNA, CCNP, CCDP dan lain sebagainya. Sertifikasi tersebut dari mulai tingkat operator, adminstrator, pemrogram, hingga sistem analis.
Sertifikasi ini memang bertumpu pada produk-produk dari para produsen teknologi informasi yang banyak digunakan dalam perusahaan maupun industri, sehingga diharapkan dengan mengantongi sertifikasi tersebut, maka para lulusan dapat diserap langsung dalam dunia kerja.
Pengelola pendidikan tinggi juga telah menyerap materi-materi yang biasanya bersifat teknis pengoperasian perangkat yang diproduksi oleh para produsen teknologi informasi tersebut ke dalam matakuliah-matakuliah yang ditawarkan. Tujuan penyerapan itu tidak lain agar para lulusan kelak sudah memiliki bekal sesuai dengan standar industri yang diterapkan.
Kurikulum berbasis wirausaha
Penerapan kurikulum berbasis industri tersebut tidaklah cukup dijadikan andalan perguruan tinggi, karena daya serap tenaga kerja oleh industri juga masih sangat terbatas. Apalagi kondisi perekonomian yang masih tergolong lesu dan belum bergairah ini.
Oleh karena itu, supaya perguruan tinggi, khususnya program studi di bidang komputer tidak hanya menghasilkan sarjana-sarjana komputer yang siap antri di depan pintu gerbang perusahaan, maka sudah saatnya program studi di bidang komputer menyiapkan kurikulum berbasis wirausaha disamping kurikulum berbasis industri.
Dalam kurikulum berbasis wirausaha, para mahasiswa tidak saja diajarkan cara untuk mengoperasikan, memelihara dan memprogram perangkat komputer semata, tetapi juga ditanamkan cara-cara yang kreatif untuk menciptakan lapangan kerja baru dengan memanfaatkan teknologi komputer tersebut.
Jiwa wirausaha dalam diri mahasiswa dapat dibangkitkan dan dibentuk sejak awal. Melalui beberapa matakuliah, mahasiswa dapat diberi pengetahuan dan dibangkitkan motivasinya untuk menjadi wirausahawan dalam bidang teknologi. Selain itu, mahasiswa juga dapat diberi tugas-tugas ekstrakurikuler untuk mencoba merintis bisnis secara kreatif.
Sebenarnya banyak peluang yang masih dapat diolah. Namun, seringkali jiwa wirausaha dari para mahasiswa tidak tumbuh, karena tidak berani menghadapi dan menganggung resiko. Oleh karena itu, para staf pengajar dapat membimbing para mahasiswa untuk berani melangkah membangun usaha.
Di sinilah bekal pengetahuan, keterampilan dan semangat diperlukan. Di satu sisi, semangat wirausaha perlu dipompa, di sisi lain perguruan tinggi perlu membekali para mahasiswa dengan kemampuan dan keterampilan melakukan analisis dan manajemen usaha agar dapat memperkecil resiko.
Peluang teknopreneur
Banyak peluang dapat diciptakan oleh para ahli teknologi informasi yang berjiwa wirausaha. Peluang yang dapat diciptakan tidak sekedar menjadi penjual perangkat komputer semata, tetapi juga menciptakan perangkat lunak – perangkat lunak untuk menunjang kegiatan manajemen pemasaran, keuangan, produksi, sumber daya manusia, dan lain sebagainya.
Peluang untuk menciptakan film-film kartun digital dengan perangkat multimedia untuk kepentingan pendidikan dan pembelajaran masih sangat terbuka. Selain itu, peluang untuk pembuatan situs-situs Web, bahkan portal juga masih dapat dieksplorasi lebih lanjut.
Jiwa wirausaha yang dibangkitkan dalam diri para mahasiswa akan membantu mahasiswa untuk membangun etos kerja yang tinggi dan meningkatkan kemampuannya untuk melihat peluang-peluang bisnis.
Penutup
Penciptaan kurikulum program studi di bidang komputer berbasis industri dan wirausaha akan menjadi daya saing perguruan tinggi di tengah maraknya pembukaan program studi di bidang komputer ini. Dengan pengembangan kedua model kurikulum tersebut, maka diharapkan para lulusan perguruan tinggi memiliki daya untuk memasuki dunia kerja dan menciptakan bisnis baru.
What Cause Blood Clots
7 years ago





Comments :
Post a Comment