Dewasa ini, para pimpinan makin menyadari pentingnya peran sistem informasi berbasis komputer untuk mengelola perusahaan, mengalirkan data dan informasi dari dan ke seluruh unit, serta membangun daya saing dalam menghadapi kompetisi yang kian ketat.
Kesadaran akan pentingnya peran sistem informasi tersebut ditunjukkan dengan adanya antusias dalam menyerap peralatan komputer dan jaringan, serta perencanaan pembangunan aplikasi sistem informasi. Untuk perusahaan yang belum banyak pengalaman dalam menyerap teknologi komputer, pada umumnya akan mulai dengan mendigitalkan departemennya secara bertahap. Sedangkan perusahaan yang sudah berpengalaman, tentu sudah memiliki rencana dan strategi yang matang untuk mengembangkan aplikasi sistem informasi korporatnya.
Namun tidak jarang tindakan untuk menerapkan teknologi komputer dan jaringan itu hanya eforia saja, tidak didasari dengan konsep yang kuat, perencanaan yang matang, dan sistem pengendalian yang baik. Pada umumnya perusahaan hanya terdorong oleh paradigma menciptakan keunggulan kompetitif, membangun citra perusahaan dan mengikuti trend semata. Sementara soal hitung-hitungan untuk mengukur nilai manfaat dari investasi, anggaran projek, penanganan projek-projek secara efektif dan audit secara transparan masih kurang mendapat perhatian. Oleh karena itu, tidak jarang usaha pengembangan aplikasi sistem informasi mengalami kesulitan, bahkan kemacetan. Sedangkan di sisi lain, finansial perusahaan menjadi terbebani oleh investasi peralatan komputer dan jaringan yang cenderung berlebihan.
Konsultan Teknologi
Bagi perusahaan yang belum berpengalaman untuk menangani pengadaan teknologi komputer dan membangun aplikasi sistem informasi dapat menggandeng konsultan teknologi untuk membantu dalam menyusun konsep, perencanaan dan anggaran serta audit teknologi.
Namun, perusahaan harus berhati-hati dalam menggandeng konsultan teknologi, karena semua rancangan yang dibangun akan mempengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan. Perusahaan membutuhkan konsultan yang berpengalaman dan dapat dipercaya untuk tidak membocorkan strategi-strategi perusahaan yang dituangkan dalam bentuk prosedur-prosedur aplikasi sistem informasinya.
Perusahaan juga dapat membagi dalam dua bagian besar, yaitu bagian pertama berupa penyusunan konsep, perencanaan dan anggaran, serta audit dapat dilakukan bersama konsultan; sedangkan bagian kedua, berupa teknis pembuatan program dapat dilakukan sendiri oleh para pemrogram dari devisi komputer perusahaan.
Dengan pembagian tersebut, maka perusahaan dapat mulai memberdayakan devisi komputernya untuk menangani pembuatan sistem tersebut, sehingga bila diperlukan untuk menambah atau memodifikasi strategi yang dituangkan dalam aplikasi sistem informasi, para pemrogram komputer perusahaan dapat melakukannya dengan cepat.
Pemberdayaan staf untuk menangani pembangunan aplikasi sistem informasi memang penting, namun tidak jarang cara kerja mereka masih harus mendapat perhatian dan kontrol secara khusus agar dapat berlangsung secara efektif, produktif dan efisien.
Ragam Metode
Carnegie-Mellon University telah mengembangkan sebuah metode yang digunakan untuk melihat tingkat kematangan perusahaan dalam pengembangan perangkat lunak yang disebut Capability Maturity Model (CMM). Tingkat kematangan perusahaan dalam pengembangan perangkat lunak akan menentukan kualitas dan kecepatan dalam membangun aplikasi sistem informasinya. Metode ini membagi tingkat kematangan menjadi lima, yaitu, tahap inisialisasi, pengulangan, pendefinisian, pengelolaan dan optimasi.
Metode CMM dapat menolong perusahaan untuk mengetahui tingkat kematangannya, sehingga dapat mengukur kinerja devisi komputernya dalam penanganan projeknya. Metode ini juga perlu dilakukan untuk mengetahui sejauhmana peran konsultan diperlukan untuk menunjang kinerja devisi komputer perusahaan.
Diharapkan perusahaan dapat mencapai tahap optimasi, yang berarti perusahaan telah memasuki tahap kematangan dimana kualitas manajemen mutu pengembangan perangkat lunak telah terintegrasi dengan seluruh rangkaian proses perusahaan. Pada tahap ini telah diterapkan kerangka peningkatan kerja yang berkesinambungan.
Sementara itu Watt S. Humphrey mengembangkan Personal Software Process (PSP) yang merupakan serangkaian proses lanjutan dari CMM. Bila CMM berfokus pada apa yang seharusnya dilakukan oleh devisi komputer yang menangani pengembangan perangkat lunak, maka PSP menitik beratkan pada cara atau bagaimana para pemrogram menyelesaikan projek tepat waktu dan sesuai dengan anggaran yang telah disusun. Metode PSP ini diarahkan untuk mengubah kebiasaan kerja para pemrogram agar tujuan projek tercapai.
PSP ini dapat diperkenalkan kepada para pemrogram melalui pelatihan. Para pemrogram diperkenalkan pada 3 fase PSP, yaitu: 1) perencanaan, dimana pemrogram diharapkan mampu menghasilkan rencana untuk mengerjakan projek aplikasi, 2) pembangunan sistem, yang meliputi desain program, evaluasi desain, pengkodean program, evaluasi kode, kompilasi dan perbaikan kesalahan, tes program dan perbaikan kesalahan, 3) Evaluasi kerja untuk mengkontrol apakah pengerjaan projek sudah sesuai dengan rencana semula dan menulis laporan.
Selain memperkenalkan 3 fase tersebut, pelatihan juga akan mengolah tujuh bidang kompetensi pemrogram yang meliputi: pengetahuan dasar, konsep dasar PSP, perkiraan dan pengukuran projek, pembuatan dan penelusuran rencana projek, perencanaan dan penelusuran kualitas aplikasi, desain aplikasi, serta ekstensi proses.
Melalui pendalaman terhadap 3 fase PSP dan pengolahan tujuh bidang kompetensi, maka para pemrogram dapat mengukur kinerja mereka sendiri dan mampu memperbaiki proses dalam pengembangan aplikasi.
Penutup
Kesadaran pimpinan untuk membangun perusahaan digital tidak cukup hanya diwujudkan dengan penyerapan peralatan komputer dan jaringan semata, melainkan juga perlu mempersiapkan sumber daya manusia, khususnya para pemrogramnya. Kinerja pemrogram memang mendesak untuk diperbaik dan ditingkatkan agar dapat membangun aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan perusahaan secara standar dan efisien.
CMM dan PSP merupakan dua buah dari beragam metode yang ditemukan dan dirumuskan oleh para ahli untuk membantu perbaikan produktivitas pemrogram dalam perusahaan. Tidak ada kata terlambat untuk memulai menerapkan kedua metode itu demi peningkatan kinerja pemrogram.
Di samping itu, sudah saatnya perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan di bidang komputer dan teknologi informasi menyerap dan memperkenalkan sejak dini kepada para peserta didiknya. Dengan demikian, ketika mereka lulus dan memasuki lingkungan perusahaan, para sarjana baru itu sudah memiliki kinerja dan produktivitas yang tinggi dalam membangun program.
What Cause Blood Clots
7 years ago





Comments :
Post a Comment